awali hari dengan senyuman....
indah pagi kan kusambut dengan berjuta senyum hangat, sehangat mentari pagi yang selalu menemani tiada henti dan tanpa kenal lelah.
sejuk hari kan ku simpan dalam relung sanubari yang kan menemani ku sepanjang hari.
hidup adalah sebuah perjalanan panjang, tak pernah berhenti jika waktunya belum tiba. juga tak pernah kembali dan akan terus maju hingga titik akhir cerita.
hidup adalah serangkaian cerita panjag penuh dengan liku. kadang ceritanya begitu menyenangkan namun kadang begitu memilukan. tapi itulah indahnya sebuah cerita, kadang mambuat kita tertawa tapi juga bisa membuat kita menangis berderai-derai air mata.
pilihlah hidupmu. karena kamulah yang akan menjalankannya. pilihan yang benar akan membawa pada ujung cerita yang indah walau kadang jalannya dipenuhi dengan ranjau dan duri yang akan menyakitkan. tapi itu akan sebanding dengan apa yang akan kita dapat sesudahnya. seperti pepatah mengatakan "melangkah ke alam perjuangan berarti rela dalam kepahitan.biarlah diri menangis terluka, kecewa, asal tetap berada dijalan ALLAH. Jika ditanya kenapa perjuangan itu pahit? jawabnya adalah karena JANAH (syurga) itu MANIS."
hidup adalah pilihan....so selamat memilih.....
jangan lupa awali pilihanmu dengan sebuah senyuman optimis, bahwa pilihan mu adalah benar....
wallahu'alam bis shawab
Rabu, 22 Juni 2011
Rabu, 15 Juni 2011
Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian
Tentang Takdir
Konsep takdir, selalu menjadi perdebatan dan pertanyaan banyak orang. Belakangan ini, saya cukup banyak menemukan pertanyaan atau pun diskusi-diskusi tentang takdir. Bagi Umat Islam, Takdir merupakan bagian daripada Aqidah, karena merupakan bagian daripada Iman terhadap Qadla dan Qadar, dimana kata Takdir ini merupakan kata yang berasal dari Qadar. Karenanya, pemahaman tentang takdir ini sangat penting bagi seorang muslim. Sebab, pemahaman akan takdir ini akan menentukan arah dan sikap seorang muslim terhadap berbagai hal yang terjadi selama hidupnya. Karenanya, banyak juga ulama-ulama yang membahas konsep takdir ini dalam buku yang mereka buat.
Mengenai takdir ini, terdapat 3 golongan yang memahaminya secara berbeda. Golongan pertama, yang berpendapat bahwa manusia itu tidak bebas sama sekali, apa yang kita lakukan, sudah ditentukan oleh ALLAH. Golongan yang kedua, berpendapat bahwa kita sangat bebas, apa pun yang kita lakukan, tidak ada campur tangan Tuhan sama sekali. Dan golongan terakhir yang berpendapat bahwa apa pun yang kita lakukan semuanya ada dalam aturan-aturan Allah, ada campur tangan Allah, tapi kita pun memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu.
Saya sendiri, jauh sebelum mengenal konsep takdir, memiliki pemahaman tersendiri berdasarkan hasil berfikir dan merenung. Dalam buku Pengajaran Agama Islam karya HAMKA, disebutkan bahwa arti Qadla itu adalah aturan, sedangkan Qadar adalah ukuran. Jauh sebelum membaca buku tersebut, saya berfikir bahwa segala hal yang ada di muka bumi ini, tunduk pada hukum sebab-akibat. Buat saya, pemahaman terhadap Qadla dan Qadar itu sederhana saja. Apapun yang terjadi di bumi ini, pasti ada sebabnya, bahkan kematian, rezeki dan jodoh pun tunduk pada hukum ini. Dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa hukum sebab-akibat ini lah yang kemudian disebut dengan Sunatullah. Dalam ajaran Islam, segala yang ada di muka bumi ini mengikuti Sunnatullah, aturan Allah. Itulah Qadla. Sedangkan Qadar adalah ukuran dari aturan-aturan tersebut. Besar-kecil (ukuran) usaha atau ikhtiar dalam mengikuti aturan tersebut akan menentukan hasil, karenanya hasil dari usaha inilah yang disebut dengan takdir.
Saya tidak pernah berfikir bahwa Allah mengatur kehidupan manusia ini seperti kita memainkan catur. Tidak seperti itu. Karenanya, saya tidak setuju dengan golongan yang pertama. Buat saya, campur tangan Allah itu ada pada aturan-aturan yang Dia buat. Dan kita, sebagai manusia, ada dalam aturan-aturan tersebut, sehingga kita pun tidak bebas sama sekali dari campur tangan Allah. Karenanya, saya pun tidak sepakat dengan golongan yang kedua. Lalu, aturan yang seperti apa kah yang sudah Allah tentukan ? Segala macam aturan. Tidak hanya tentang aturan bagaimana hidup yang benar, tapi juga aturan-aturan terhadap alam semesta. Umur, mati, sehat, sakit, tua, rusak, itulah aturan-aturan Allah.
Contoh sederhananya begini, kita tahu, semakin tua umur suatu tali, akan semakin lapuk dan kemampuan untuk mengangkat dan menahan bebannya pun akan semakin berkurang, inilah Qadla. Katakanlah, jika dulu tali tersebut sanggup menahan berat 200 Kg selama berjam-jam, maka sekarang tali tersebut hanya mampu menahan beban seberat 50 Kg, itupun kurang dari 2 jam, inilah Qadar. Masalahnya adalah, kita tidak pernah tahu berapa beban yang sanggup tali tersebut tahan dan berapa lama, yang kita tahu, bahwa tali tersebut sudah tua dan lapuk. Karenanya, jika ingin selamat dari kecelakaan, ketika mengangkat benda dengan tali, atau ketika kita bergelantungan dengan tali, adalah dengan menghindari penggunaan tali yang tua tersebut. Kita tidak bisa menantang aturan Allah dengan nekat menggunakan tali tersebut dengan beban melebihi kemampuan tali. Karenanya, ketika kita nekat menggunakan tali tersebut, kemudian kita celaka, tidak bisa kita mengatakan,”Ini adalah ujian dari Allah…”, tidak seperti itu. Karena, Allah sudah memberikan kepada manusia akal untuk digunakan memahami aturan-aturan Allah tersebut, jika kemudian kita menentang akal kita sendiri, dan kemudian terjadi kecelakaan, itu akibat kelakuan kita sendiri. Bukan karena Allah yang melakukan. Karenanya, kita harus intorspeksi, tidak bisa kita menyalahkan Allah. Takdir kita celaka, karena perbuatan kita sendiri. Allah sudah tentukan Qadar pada tiap aturan tersebut. Karenanya, kita harus menggunakan akal kita untuk memahami aturan tersebut dan memilih ketika melakukan sesuatu.
Kematian pun mengikuti aturan ini. Contoh pada kasus bunuh diri. Bisa jadi, orang yang melakukan bunuh diri belum saat nya mati. Bisa jadi, Allah sudah menentukan hari kematiannya di waktu yang lain. Tapi, akan menjadi berantakan segala aturan yang ada jika kemudian, misalnya, ada orang yang mencoba bunuh diri dengan minum baygon sampai ber-galon-galon, atau mencoba memegang setrum tegangan tinggi selama berjam-jam, masih hidup juga, alasannya, karena Allah belum menentukan hari kematiannya saat itu. Tidak seperti itu. Allah tidak akan sekonyol itu. Allah memang sudah menentukan saat kematian seseorang, tapi Allah pun tidak akan membiarkan aturan yang Dia buat menjadi berantakan. Karenanya, orang tersebut “harus” mati, agar aturan Allah tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun, sebetulnya, bukan saatnya dia mati. Karena itu lah, Allah melaknat orang-orang yang bunuh diri. Bayangkan, jika orang tersebut masih hidup, tentunya akan menyebabkan berbagai aturan kacau balau, ilmu pengetahuan menjadi berantakan, dan mungkin, akan ada ribuan orang yang mencoba minum baygon sebagai sarapan pagi….heu heu heu.
Kasus kecelakaan mobil atau motor karena ban pecah, tabrakan, rem blong, semuanya mengikuti aturan yang ada. Ban pecah, bisa terjadi karena tertusuk paku, atau tekanan udaranya kurang, atau umur bannya sudah tua, jadi bukan Allah yang memecahkannya, aturan Allah lah yang membuat hal itu terjadi. Kasus kecelakaan lainnya, seperti tabrakan kereta api, pesawat jatuh, kapal tenggelam, semuanya pasti ada sebab nya, dan biasanya karena adanya sunnatullah yang dilanggar. Tapi dari situ, kita seolah-olah ditegur oleh Allah agar melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan dan ukuran yang telah ditetapkan.
Khusus untuk urusan Rezeki dan Jodoh, saya agak kesulitan juga menjelaskannya, karena memang untuk kasus-kasus ini sering terjadi hal-hal yang agak “aneh”. Bukan tidak masuk akal, hanya saja pada beberapa kasus cenderung keluar dari aturan-aturan yang ada. Selain itu juga karena adanya persinggungan dengan “takdir” orang lain. Tapi, sebagian besar tetap terikat Sunnatullah yang sudah ada.
Dalam urusan Rezeki, Islam memerintahkan untuk bekerja keras. Ingin kaya, ya bekerja keras. Ingin urusan Rezeki lancar, carilah jalan masuknya rezeki yang baik. Karenanya, biasanya, urusan Rezeki ini berbanding lurus dengan besarnya Usaha, apa yang dikerjakan, dan pada siapa kita bekerja. Jadi, tidak bisa kita mengeluh, “Sudah kerja banting tulang, tapi masih kayak gini-gini aja (miskin)…”. Pertanyaannya adalah, apa yang dikerjakan ? Di mana bekerjanya? dan kerja pada siapa ? Kalau kerja keras siang malam, tapi hanya sebagai penarik becak, wajar saja kalau tidak kaya, karena memang pintu nya kecil. Kalau sebagai karyawan, wajar saja gajinya pas-pasan, karena besarnya gaji kita juga ditentukan oleh perusahaan. Tapi, kalau jadi seorang pembicara seminar, wajar saja bayarannya besar. Karenanya, urusan Rezeki sangat berhubungan dengan orang lain juga. Tapi, dunia ini membuktikan bahwa orang-orang yang sukses secara finansial adalah orang-orang yang tahu bagaimana dia harus bekerja, tahu apa yang harus dikerjakan, dan tahu pada siapa dia harus bekerja. Tidak asal, “pokoknya gua kerja”. Dan untuk mencapai ke level itu, yang paling dominan adalah kerja keras dan pengetahuan tentang strategi mencari rezeki. Karenanya, agar rezeki menjadi lancar, kita pun harus mengkondisikan diri kita pada situasi yang memang memungkinkan kelancaran rezeki tersebut. Tidak bisa hanya tidur dan diam, lalu berkata, “kalau udah rezeki mah pasti datang sendiri…”. Karena itu, keadaan finansial kita sekarang merupakan hasil dari kerja kita diwaktu yang lalu. Kalau misalkan kita kerja selama ini tidak kaya-kaya juga, carilah tempat yang lain, atau pekerjaan yang lain. Tidak mungkin hanya diam saja di tempat tersebut. Kalau misalkan sampai saatnya mati belum kaya juga, setidaknya kita sudah berusaha untuk mencari kualitas hidup yang lebih baik.
Meksipun ada juga kasus-kasus datangnya Rezeki dari arah yang “tidak bisa diduga”, tapi biasanya, hal tersebut juga terjadi dari usaha yang kita lakukan sebelumnya. Misalnya, kita sering menolong orang lain, atau berbuat baik kepada orang lain. Sebagai rasa terima kasih, maka orang yang ditolong tersebut memberikan uang atau rezeki lainnya kepada kita. Itu pun, pada dasarnya, akibat usaha kita juga. Jarang sekali ada orang yang kaya akibat nemu duit 1 milyar di jalan. Kalau warisan, itu lain lagi, biasanya warisan tersebut merupakan hasil dari kerja keras orang yang mewariskannya. Penerima waris hanya menerima hasilnya saja.
Nah, untuk urusan jodoh, memang “sepenuhnya” karena keputusan Allah. Biasanya, untuk kasus jodoh ini, campur tangan Allah dirasakan sangat besar. Karena, kadang, sebesar apa pun usaha yang kita lakukan, kalau memang orang yang kita incar tidak suka, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, urusan hati ini, hanya Allah saja yang bisa membolak-balikkannya, tentu saja dengan caraNya yang terkadang tidak bisa kita mengerti. Tapi, tetap saja, orang-orang yang berikhtiar lebih keras, cenderung lebih cepat mendapatkan jodohnya daripada orang-orang yang menunggu datangnya jodoh. Karenanya, kita pun harus introspeksi diri, seberapa besar usaha kita untuk mendapatkan jodoh tersebut…
Lalu, apa fungsinya Do’a ? Nah, Do’a adalah harapan terhadap kondisi ideal yang kita inginkan dan kita minta kepada Allah. Salah satu alasan mengapa Do’a tidak langsung dikabulkan adalah karena Allah lebih mengetahui kondisi kita yang sebenarnya daripada kita sendiri. Karenanya, agar Do’a kita terkabul, sering kali Allah menyiapkan kondisi kita terlebih dahulu. Caranya, mungkin melalui kemantapan hati ketika mengambil suatu keputusan, atau rasa gelisah ketika akan melakukan sesuatu yang salah, yang jelas, bentuk pengabulan do’a ini sangat jarang sekali yang langsung. Misalkan, kita ingin menjadi orang yang sholeh, kemudian kita berusaha untuk mencari lingkungan yang baik agar kita bisa menjadi sholeh. Nah, dalam pencarian itulah, biasanya Allah menolong kita, misalnya dengan memberikan rasa tenang ketika kita bertemu orang-orang yang sholeh, atau ketika berada di lingkungan tersebut, sehingga kita merasa betah berada disana, dan pada akhirnya, karena sering bergaul, pelan-pelan kita pun menjadi orang yang sholeh. Tidak ujug-ujug jadi sholeh, bisa hancur dunia persilatan. Allah hanya memberikan tuntunan, melalui sinyal-sinyal yang dia berikan, keputusan tetap ada pada kita. Jadi, Allah tidak memperlakukan kita seperti bidak catur…”Kamu, ke sini aja ya…? biar ntar ke neraka….” , “Nah, kamu kesana aja…supaya masuk surga..”…Saya kira tidak begitu. Hal tersebut tentu saja tidak adil, percuma saja kita hidup kalau misalkan Allah sudah menentukan “Kamu masuk Surga…”, “Kamu masuk Neraka…”. Dan untuk apa ada penghisaban di akhirat kalau jelas-jelas kita masuk neraka atau surga.
Dalam buku HAMKA tersebut, dijelaskan bahwa salah satu kemunduran umat Islam, dan menurut saya bangsa Indonesia juga, adalah menghindari Takdir, bukan menghadapinya. Kalau ingin kaya, aturannya bekerja keras, bukan diam atau malas-malasan, sementara kita lebih banyak bermalas-malasan, wajar kalau tidak kaya. Orang yang menghadapi takdir adalah mereka yang bekerja keras, sedangkan yang menghindari adalah mereka yang bermalas-malasan. Jadi,memang benar kalau segala yang baik itu datangnya dari Allah, karena Dia sudah menentukan segala sesuatunya dengan baik, kalau kita mengikuti dan memahami aturan-aturan yang ada, kita akan menemukan takdir yang baik. Sementara segala macam bencana, kecelakaan pada dasarnya memang hasil perbuatan dan kelalaian manusia juga. Contoh, banjir bandang, logikanya, banjir tersebut tidak perlu terjadi,jika hutan-hutan yang ada mampu menahan dan menyerap air tersebut. Tapi, karena hutan tersebut gundul, mengalirlah air tersebut tanpa hambatan, terjadilah banjir bandang. Siapakah yang menggundulinya ? Manusia juga. Jadi, bentuk “teguran” yang terjadi, biasanya sesuai atau akibat dari apa yang dilakukan oleh manusia.
Fenomena-fenomena alam yang terjadi juga, pada dasarnya adalah sunnatullah agar alam semesta ini tetap stabil. Gempa Bumi, letusan gunung merapi, dan lain-lain. Hanya saja, mungkin, pada saat itu Allah benar-benar “turun tangan” agar manusia tidak sombong dan lalai. Contoh pada kasus Tsunami di Aceh, mungkin yang terjadi pada saat itu bukan hanya semata-mata fenomena alam biasa, tapi mungkin memang Allah memberikan teguran secara langsung. Meskipun, secara ilmiah, masih bisa dijelaskan.
Intinya, campur tangan Allah di dunia ini, “diwakili” oleh ketentuan yang sudah Dia gariskan. Tidak turun tangan langsung seperti mengatur bidak-bidak catur. Dalam kehidupan kita, kita tidak bisa lepas dari aturan-aturan (ketentuan) tersebut. Bagaimanapun jalan kita, kita terikat oleh ketentuan tersebut. Namun, kita pun dibekali akal untuk memahami aturan-aturan tersebut, sehingga ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita tidak bertindak bodoh dan celaka karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan. Namun, terkadang, dalam beberapa hal, Allah benar-benar mengambil alih dan “menyentil” kehidupan kita dengan caranya yang tidak bisa kita pahami.
Jadi, selamat menentukan arah takdir …
Label:
Jodoh dan Kematian,
Motivasi kehidupan,
Rizeki
Lokasi:
Indonesia
Sabtu, 11 Juni 2011
Kasih Sayang dan Pengorbanan Orang Tua
Ketika pertama kali kita menghirup udara didunia ini,maka semua orang menyambut kedatangan kita dengan penuh gembira.Ibu yang bertaruh nyawa ketika kita keluar dari rahimnya,penderitaan dan kesakitan yang ia rasakan,hilang seketika, saat kita lahir dengan selamat.
Diletakannya kita disampingnya.Ia cium dan peluk kita seakan-akan ia ingin berkata; Nak,kesakitan tatkala Ibu ingin melahirkan engkau, semuanya hilang setelah melihat senyummu.
Setelah kita hadir didunia Ayah dan Ibu senantiasa menjaga kita dari berbagai macam narabahaya, sampai-sampai mereka tidak rela jika seekor nyamuk pun menggigit kita,ketika kita menangis dimalam hari orang tua yang sedang tidur ngenyak bergegas melihat dan mendekat,karena mereka takut kehilangan kita.
Mereka menjaga kita lebih dari segalanya, kitika kita sakit.Orang tua telah bersusah payah untuk mencari berbagai macam cara agar kita sembuh.Meskipun ketika itu mereka sendiri sedang sakit.Mereka paksakan diri dan rela berhutang kesana kemari untuk membayar obat-obatan.Mereka malukan dirinya,hanya degan harapan agar kita segera sembuh.
Ktika penyakit kita makin bertambah parah,makin bertambah pula kesedihan dan kerisauan mereka terhadap kita,tetesan air mata itu selalu keluar dari kelopak mata mereka,dijaganya kita siang dan malam tanpa menghiraukan kelaparan yang mereka rasakan berhari-hari,merek menjaga kita,kotoran-kotoran kita dibasuh mereka dengan tangannya.
Ayah dan Ibu kita,disaat itu mereka tidak tenang dimanapun mereka berada,merekaa khawatir dan takut,kalau-kalau kehilangan kita dari dunia ini.Andaikata kesakitan yang kita rasakn itu bisa dipindahkan kepada mereka sebagai gantinya tentu mereka siap menerimanya agar kita kembali tersenyum seperti anak-anak yang lain.Diwakut ALLAH menyembuhkan kita,orang tua kitalah yang pertama kali Sujud Syukur,karena senang dan gembira melihat kita kembali ceria.Ketika hari berganti hari pertumbuhan kita semakin besar.Orang tua makin bertambah sibuk mengurusi keperluan-keperluan kita.Hujan dan panas tiada mereka hiraukan,siang dan malam tiada mereka pandang semua itu.Mereka lakukn hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita.Mereka tidak ingin melihat kita malu dihadapan teman-teman kita.Dimasa dekat Hari Raya.Orang tua kita makin bertambah sibuk untuk membahagiakan kita,dari pagi hingga malam,mereka bekerja tanpa menghiraukan susah dan payah mereka,terus bekerja dengan harapan agar kita dapat memakai pakaian baru dihari raya,sama seperti teman-teman kita yang lain.Mereka rela dimarahi ketika bekerja,dihina dan dicaci,itu semua untuk kita.
Awal-awal kita duduk dibangku sekolah, senang sekali orang tua kita setiap saat mereka berdo’a mudah-mudahan besok jika kita besar kita dapat membahagiakn mereka.Pagi-pagi seblum kita bangun dari tempat tidur,mereka telah bangun duluan mempersiapkan sarapan dan air mandi untuk kita.Dibangunkannya kita dengan kasihsayang dilepaskannya pakaian kita dengan kelembutan dan merekapun memandikan kita,setelah kita siap semuanya,merekapun menghantar kita keskolah agar kita menjadi anak yang berbakti dikemudian hari.
Tetesan keringat dan air mata mereka untuk mengasuh dan mendidik kita tidak mungkin kita dapat membayarnya walaupun kita memiliki dunia beserta isinya.
Tetapi ajaib,selama mereka mengasuh dan mendidik kita tidak pernah terlintas dari pikiran dan hati mereka agar kita menggantinya.Tahun berganti tahun,kitapun tumbuh besar,mereka terus berusaha untuk membiayai sekolah kita.Penghasilan yang tidak mencukupi,memaksa mereka bekerja lebih lama.
Mereka hadapi badai yang menerpa,mereka korbankan kelelahan mereka,sampai-sampai nampak mata mereka yang telah redup kerena kleelahan mencari nafkah.Dikala mereka telah kembali dari kerjanya kita lihat,mereka bersandar dikursi karena kelelahan disaat mencari nafkah untuk kita,mereka tidak merasakan enaknya makan seblum mereka melihat kita makan.Usia kita yang semakin hari semakin berkurang membuat kecintaan dan kasihsayang mereka semakin besar terhadap kita,kepergian kita meninggalkan rumah untuk bertamasya,membuat hati mereka bimbang dan kahwatir terhadap kita,mereka takut,kalau-kalau suatu musibah menimpa kita,makin tiada mereka rasakan enak,tidur tiada mereka rasakan ngenyak,mereka selalu memikirkan keselamatan kita.
Diletakannya kita disampingnya.Ia cium dan peluk kita seakan-akan ia ingin berkata; Nak,kesakitan tatkala Ibu ingin melahirkan engkau, semuanya hilang setelah melihat senyummu.
Setelah kita hadir didunia Ayah dan Ibu senantiasa menjaga kita dari berbagai macam narabahaya, sampai-sampai mereka tidak rela jika seekor nyamuk pun menggigit kita,ketika kita menangis dimalam hari orang tua yang sedang tidur ngenyak bergegas melihat dan mendekat,karena mereka takut kehilangan kita.
Mereka menjaga kita lebih dari segalanya, kitika kita sakit.Orang tua telah bersusah payah untuk mencari berbagai macam cara agar kita sembuh.Meskipun ketika itu mereka sendiri sedang sakit.Mereka paksakan diri dan rela berhutang kesana kemari untuk membayar obat-obatan.Mereka malukan dirinya,hanya degan harapan agar kita segera sembuh.
Ktika penyakit kita makin bertambah parah,makin bertambah pula kesedihan dan kerisauan mereka terhadap kita,tetesan air mata itu selalu keluar dari kelopak mata mereka,dijaganya kita siang dan malam tanpa menghiraukan kelaparan yang mereka rasakan berhari-hari,merek menjaga kita,kotoran-kotoran kita dibasuh mereka dengan tangannya.
Ayah dan Ibu kita,disaat itu mereka tidak tenang dimanapun mereka berada,merekaa khawatir dan takut,kalau-kalau kehilangan kita dari dunia ini.Andaikata kesakitan yang kita rasakn itu bisa dipindahkan kepada mereka sebagai gantinya tentu mereka siap menerimanya agar kita kembali tersenyum seperti anak-anak yang lain.Diwakut ALLAH menyembuhkan kita,orang tua kitalah yang pertama kali Sujud Syukur,karena senang dan gembira melihat kita kembali ceria.Ketika hari berganti hari pertumbuhan kita semakin besar.Orang tua makin bertambah sibuk mengurusi keperluan-keperluan kita.Hujan dan panas tiada mereka hiraukan,siang dan malam tiada mereka pandang semua itu.Mereka lakukn hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita.Mereka tidak ingin melihat kita malu dihadapan teman-teman kita.Dimasa dekat Hari Raya.Orang tua kita makin bertambah sibuk untuk membahagiakan kita,dari pagi hingga malam,mereka bekerja tanpa menghiraukan susah dan payah mereka,terus bekerja dengan harapan agar kita dapat memakai pakaian baru dihari raya,sama seperti teman-teman kita yang lain.Mereka rela dimarahi ketika bekerja,dihina dan dicaci,itu semua untuk kita.
Awal-awal kita duduk dibangku sekolah, senang sekali orang tua kita setiap saat mereka berdo’a mudah-mudahan besok jika kita besar kita dapat membahagiakn mereka.Pagi-pagi seblum kita bangun dari tempat tidur,mereka telah bangun duluan mempersiapkan sarapan dan air mandi untuk kita.Dibangunkannya kita dengan kasihsayang dilepaskannya pakaian kita dengan kelembutan dan merekapun memandikan kita,setelah kita siap semuanya,merekapun menghantar kita keskolah agar kita menjadi anak yang berbakti dikemudian hari.
Tetesan keringat dan air mata mereka untuk mengasuh dan mendidik kita tidak mungkin kita dapat membayarnya walaupun kita memiliki dunia beserta isinya.
Tetapi ajaib,selama mereka mengasuh dan mendidik kita tidak pernah terlintas dari pikiran dan hati mereka agar kita menggantinya.Tahun berganti tahun,kitapun tumbuh besar,mereka terus berusaha untuk membiayai sekolah kita.Penghasilan yang tidak mencukupi,memaksa mereka bekerja lebih lama.
Mereka hadapi badai yang menerpa,mereka korbankan kelelahan mereka,sampai-sampai nampak mata mereka yang telah redup kerena kleelahan mencari nafkah.Dikala mereka telah kembali dari kerjanya kita lihat,mereka bersandar dikursi karena kelelahan disaat mencari nafkah untuk kita,mereka tidak merasakan enaknya makan seblum mereka melihat kita makan.Usia kita yang semakin hari semakin berkurang membuat kecintaan dan kasihsayang mereka semakin besar terhadap kita,kepergian kita meninggalkan rumah untuk bertamasya,membuat hati mereka bimbang dan kahwatir terhadap kita,mereka takut,kalau-kalau suatu musibah menimpa kita,makin tiada mereka rasakan enak,tidur tiada mereka rasakan ngenyak,mereka selalu memikirkan keselamatan kita.
Jumat, 10 Juni 2011
Jangan terbuai oleh perasaan
Sebagai kaum yang senantiasa dianggap lemah, wanita harus berjuang keras menampilkan sosok yang patut dihargai dan dihormati.
Masih berbicara tentang wanita. Sebagai seorang wanita,janganlah mudah meminta untuk dikasihani. Wanita yang kuat akan selalu bangkit ketika ada masalah dan tidak terpuruk terlalu lama didalamnya. Dan dalam menjalankan apapun, hendaknya lebih memilih berpikir dengan logika daripada perasaan meskipun pada kenyataan, kita sebagai wanita cenderung menggunakan perasaan dibandingkan logika. Sejatinya, kita harus berpikir tentang baik buruknya suatu hal yang sedang dan akan berlangsung dalam hidup kita. Bila dikatakan hidup itu rumit, melelahkan, sulit dan sebagainya... Hal itu tak sepenuhnya benar. Meski terkadang, saya pribadi suka mengalami kerumitan dalam hidup yang membuat saya down. Namun ternyata jika ditelisik lagi, Hidup ini terlalu singkat untuk dibuat rumit. Ada hal dimana, kita harus rehat sejenak... Menghirup udara segar, sambil memejamkan mata dan menikmati angin berdesir yang itu semua membuat beban kita terasa lepas.
Sekali lagi, kejenuhan dan keletihan dalam menghadapi aktivitas harian rasanya tidak bisa disangkal oleh kita. Siapapun bisa merasakannya... Seperti kita, yang terlahir sebagai seorang wanita. Ada saja yang membuat perasaan gundah gulana, sedih, kecewa, marah dan sebagainya. Terlebih, bila kejenuhan hati tengah kita rasakan... Banyak yang memutuskan untuk "menghilang dari peredaran". Saya mengerti akan hal itu, memang butuh waktu-waktu tertentu untuk kita rehat sejenak.
Menghindar dari segala kerumitan yang ada, yang tentu timbul dari sebuah perasaan. Sekali lagi, saya hanya ingin menjalani sesuatu sesederhana mungkin dan tidak ingin terbuai dengan perasaan saya saja karena saya merasa bahwa kaum wanita kadang menjadi korban dari buaian perasaannya. Semuanya itu boleh saja sih, tapi jangan berlebihan karena sesuatu yang dilakukan secara berlebihan hasilnya belum tentu baik. Betul khan?
Kita harus memiliki standar sendiri untuk memilih hal yang sekiranya baik untuk kehidupan kita. Seperti halnya saya, tentu tidak akan bertahan apabila saya tidak merasa dihargai dengan layak dalam hal apapun. Karena itu sifat dasar manusia. Butuh sebuah penghargaan. Tapi, apa jadinya jika hal yang kita inginkan itu tak bisa terwujud? Kalau mengikuti kata perasaan, tentu yang didapat adalah kecewa dan sakit hati yang ada pada diri. Padahal banyak yang bisa kita hargai dari dalam diri kita. Tanpa perlu mendapat penghargaan dari orang lain. Percayalah... Keletihan, kerapuhan, kelemahan, kesakitan dan sebagainya... Ternyata bisa kita lalui semua. Meski terkadang semua itu harus kita lalui terlebih dahulu dengan berurai air mata. Tak mengapa, bukankah air mata diciptakan untuk mengungkapkan sebuah rasa? Karena tidak hanya bahagia saja yang ada di dunia.
"Engkau tidak akan bahagia dengan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain... Tapi kembalilah pada rasa yang ada dalam dirimu agar engkau gembira."
"Kadang, bukan suasana yang harus diganti... Tapi rasa di dalam hati yang perlu kita perbaiki".
Maka, Sebagai seorang wanita dan pribadi yang mandiri... Kita harus lebih pintar mengontrol perasaan kita, berpikir logis, dan tidak gegabah dalam bertindak. Apabila kita sebagai wanita sudah merasa harga diri kita terlanjur hancur, sebagai akibat dari kurangnya penghargaan terhadap diri kita sendiri, ada baiknya untuk mencoba bangkit kembali dan berusaha lebih menghargai diri kita sebelum kita ingin dihargai orang lain.
Don’t waste your time....
Masih berbicara tentang wanita. Sebagai seorang wanita,janganlah mudah meminta untuk dikasihani. Wanita yang kuat akan selalu bangkit ketika ada masalah dan tidak terpuruk terlalu lama didalamnya. Dan dalam menjalankan apapun, hendaknya lebih memilih berpikir dengan logika daripada perasaan meskipun pada kenyataan, kita sebagai wanita cenderung menggunakan perasaan dibandingkan logika. Sejatinya, kita harus berpikir tentang baik buruknya suatu hal yang sedang dan akan berlangsung dalam hidup kita. Bila dikatakan hidup itu rumit, melelahkan, sulit dan sebagainya... Hal itu tak sepenuhnya benar. Meski terkadang, saya pribadi suka mengalami kerumitan dalam hidup yang membuat saya down. Namun ternyata jika ditelisik lagi, Hidup ini terlalu singkat untuk dibuat rumit. Ada hal dimana, kita harus rehat sejenak... Menghirup udara segar, sambil memejamkan mata dan menikmati angin berdesir yang itu semua membuat beban kita terasa lepas.
Sekali lagi, kejenuhan dan keletihan dalam menghadapi aktivitas harian rasanya tidak bisa disangkal oleh kita. Siapapun bisa merasakannya... Seperti kita, yang terlahir sebagai seorang wanita. Ada saja yang membuat perasaan gundah gulana, sedih, kecewa, marah dan sebagainya. Terlebih, bila kejenuhan hati tengah kita rasakan... Banyak yang memutuskan untuk "menghilang dari peredaran". Saya mengerti akan hal itu, memang butuh waktu-waktu tertentu untuk kita rehat sejenak.
Menghindar dari segala kerumitan yang ada, yang tentu timbul dari sebuah perasaan. Sekali lagi, saya hanya ingin menjalani sesuatu sesederhana mungkin dan tidak ingin terbuai dengan perasaan saya saja karena saya merasa bahwa kaum wanita kadang menjadi korban dari buaian perasaannya. Semuanya itu boleh saja sih, tapi jangan berlebihan karena sesuatu yang dilakukan secara berlebihan hasilnya belum tentu baik. Betul khan?
Kita harus memiliki standar sendiri untuk memilih hal yang sekiranya baik untuk kehidupan kita. Seperti halnya saya, tentu tidak akan bertahan apabila saya tidak merasa dihargai dengan layak dalam hal apapun. Karena itu sifat dasar manusia. Butuh sebuah penghargaan. Tapi, apa jadinya jika hal yang kita inginkan itu tak bisa terwujud? Kalau mengikuti kata perasaan, tentu yang didapat adalah kecewa dan sakit hati yang ada pada diri. Padahal banyak yang bisa kita hargai dari dalam diri kita. Tanpa perlu mendapat penghargaan dari orang lain. Percayalah... Keletihan, kerapuhan, kelemahan, kesakitan dan sebagainya... Ternyata bisa kita lalui semua. Meski terkadang semua itu harus kita lalui terlebih dahulu dengan berurai air mata. Tak mengapa, bukankah air mata diciptakan untuk mengungkapkan sebuah rasa? Karena tidak hanya bahagia saja yang ada di dunia.
"Engkau tidak akan bahagia dengan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain... Tapi kembalilah pada rasa yang ada dalam dirimu agar engkau gembira."
"Kadang, bukan suasana yang harus diganti... Tapi rasa di dalam hati yang perlu kita perbaiki".
Maka, Sebagai seorang wanita dan pribadi yang mandiri... Kita harus lebih pintar mengontrol perasaan kita, berpikir logis, dan tidak gegabah dalam bertindak. Apabila kita sebagai wanita sudah merasa harga diri kita terlanjur hancur, sebagai akibat dari kurangnya penghargaan terhadap diri kita sendiri, ada baiknya untuk mencoba bangkit kembali dan berusaha lebih menghargai diri kita sebelum kita ingin dihargai orang lain.
Don’t waste your time....
Kitika ilmu yang kita anggab bermanfa'at
“Carilah ilmu walaupun sedikit tetapi bermanfaat,karena hakekat orang yang bodoh manakala ia senang dalam menuntut ilmu,tetapi sama sekali ilmu yang dia peroleh tidak bisa menjadikan manfaat dalam kehidupannya sendiri.” Sebelum kita menelusuri lebih jauh,setidaknya kita memahami sebenarnya seperti apa yang dinamakan ilmu yang bermanfaat???
Ya…ilmu yang bermanfaat ialah sinar yang cahayanya meluas dalam dada,dan membuka penutup hati. Karena ilmu yang bermanfaat ialah mengenal Dzat ALLAH,sifat-sifat,serta Asma(nama)&perbuatan ALLAH. Dan juga mengerti bagaimana mengabdi diri kepada ALLAH serta beradab kepadaNya. Tentunya jika ilmunya itu bermanfaat untuk dirinya sendiri pasti juga akan bermanfaat ntuk orang lain. Karena dengan ilmunya ia bisa membedakan mana yang baik,mana yang buruk,mana yang mengamalkan ilmu dengan ikhlas,dan mana yang mengamalkan ilmu dengan kesombong an.
Abul Qasim Al-Junaid ditanya: “Apakah ilmu yang berguna itu??” jawabnya: “Ialah yang menunjukkan engkau kepada ALLAH,dan menjauhkan diri dari menurutkan hawa nafsu&syahwatmu.” Dan seperti apa yang menurutkan hawa nafsu??? Ya…hawa nafsu karena kesombongan,ujub,riya,takabbur dan lain-lain.
Ingatlah ilmu itu akan jauh lebih bermanfaat apabila ia dapat mendekatkan manusia kepada ALLAH yang sama sekali tidak terhijab oleh indahnya dunia dan menjauhkan dari kesombongan diri. Lihatlah kita sendiri teman…sebelum kita melihat orang lain,sudah benarkah kita,sebelum kita membenarkan orang lain???
Bagaimana mungkin kita menyuruh orang lain bertahajjud misalnya… sedangkan kita tiap malam begitu enggan beranjak dari tempat tidur&selimut hangat kita???
Apakah ini ilmu yang bermanfaat buat diri kita sendiri,sedang hanya akan bermanfaat untuk orang lain??
Bagaimana mungkin kita menyuruh orang lain berdzikir kepada ALLAH,sedangkan kita sering mengingat dunia&menyebut nama selainNya???
Bagaimana mungkin kita menyuruh orang lain mengingat tentang kematian,sedangkan hati kita sendiri sama sekali tidak bergetar tatkala mendengar namaNya???
Bagaimana mungkin kita menyuruh orang lain senantiasa untuk bershalawat,sedangkan hati kita masih sering tidak selaras untuk mengagungkan kemuliaan beliau,dan mengaku pencinta Nabi sedangkan sunnah-sunnah&akhlak beliau tidak bisa menjadi teladan bagi kita.
Bagimana mungkin kita menyuruh orang lain untuk melakukan puasa sunnah&membaca Al-Qur’an,sedangkan kita juga belum tentu ikhlas dalam menjalankan puasa,dan kita juga masih lebih suka membaca majalah,Koran,bahkan obrolan yang banyak menjadikan kita lalai dengan obrolan yang tidak bermanfaat,contohnya dalam Facebook.
Apakah ini semua yang dinamakan ilmu yang kita harapkan bermanfaat,sedangkan itu semua tidak bisa manfaat buat diri kita??? Kita seringkali lalai,yang hanya selalu melihat orang lain sehingga kita lebih dahulu dinilai oleh orang lain. Kita seringkali lalai yang hanya terlalu memikirkan dunia,sehingga kita lupa dengan apa yang pernah kita serukan kepada orang lain.
Inilah dunia yang bisa menjadi ladang kerusakan,terlebih untk jiwa kita jika salah dalam mengambil langkah . disinilah tempat kita menyombongkan diri,merasa ingin dipuji,padahal ilmu ini tidak akan ada apa-apanya,apalagi jika ilmu itu tidak pernah masuk dalam akal&merasuk kedalam qalbu. Kenapa kita merasa senang jika dipanggil Guru&jabatan kita diketahui banyak orang,padahal tingkah laku kita sering tidak mencerminkan seorang pendidik yang baik???
Kenapa kita merasa bangga dengan sebutan Ustadz/Ustadzah,jikalau akhlaq kita sering melanggar syari’at&jauh dari kata teladan???
Kenapa kita merasa menjadi ahli kitab/seorang Hafidz yang mahir,padahal ilmu kita hanya berisi kesombongan&terkadang kita juga tidak memahami makna&maksud dari ayat yang kita hafalkan???
Kenapa kita merasa amalan kita sempurna,jika orang lain telah mengetahui bahwa kita adalah ahli puasa&ahli b’ibadah,padahal semua amalan itu hanyalah jalan untuk Riya’&Ujub.
Ingatlah….kemuliaan seseorang bukan hanya tingginya ilmu,tetapi karena ketakwaannya. Dalam islam,orang yang tahu tetapi tidak melaksanakan ilmunya,maka dipandang sebagai tidak tahu. Jadi antara amalperbuatan&lisannya haruslah seimbang. Seseorang yang menyerukan amalan-amalan,baik lewat catatan tausiyahnya dalam FB misalnya,juga haruslah memahami bahwa setiap kata adalah nasihat,dan setiap kalimat adalah amanat. Jika kita memilih jalan ini maka kita juga harus tahu konsekuensinya. Bahwa amal perbuatan&lisannya haruslah seimbang,artinya ilmu yang kita sampaikan juga haruslah bermanfaat untuk diri kita dahulu,barulah bermanfaat untuk orang lain,seperti Dawuhnya Romo Kyai diatas… Rasul bersabda dari Abi Mas’ud ra bahwa: “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan,maka akan memperoleh pahala seperti yang melaksanakannya.” Tetapi… dalam surat As-Saff ayat 3 berbunyi: “Alangkah besarnya dosa dihadapan ALLAH bila kamu mengucapkan(mengajak) sesuatu yang tidak kamu lakukan.” Jadi…janganlah menilai seseorang dari pembicaraannya saja,tetapi lihatlah realita hidupnya. Kita juga haruslah menyadari bahwa hidup didunia hanyalah sementara,karena kesenangan dunia adalah sementara,seharusnya kita menyadari bahwa dunia adalah tempat beramal,sedangkan akhirat adalah tempat memanen.
Semoga bermanfaat untuk menghantarkan kita menjadi manusia baru sebelum berfikir,berucap&melangkah.
Mohon maaf jika dalam kata&kalimat ada yang tidak berkenan,karena ini hanyalah bahan introspeksi diri&sebuah iklan.
Ya…ilmu yang bermanfaat ialah sinar yang cahayanya meluas dalam dada,dan membuka penutup hati. Karena ilmu yang bermanfaat ialah mengenal Dzat ALLAH,sifat-sifat,serta Asma(nama)&perbuatan ALLAH. Dan juga mengerti bagaimana mengabdi diri kepada ALLAH serta beradab kepadaNya. Tentunya jika ilmunya itu bermanfaat untuk dirinya sendiri pasti juga akan bermanfaat ntuk orang lain. Karena dengan ilmunya ia bisa membedakan mana yang baik,mana yang buruk,mana yang mengamalkan ilmu dengan ikhlas,dan mana yang mengamalkan ilmu dengan kesombong an.
Abul Qasim Al-Junaid ditanya: “Apakah ilmu yang berguna itu??” jawabnya: “Ialah yang menunjukkan engkau kepada ALLAH,dan menjauhkan diri dari menurutkan hawa nafsu&syahwatmu.” Dan seperti apa yang menurutkan hawa nafsu??? Ya…hawa nafsu karena kesombongan,ujub,riya,takabbur dan lain-lain.
Ingatlah ilmu itu akan jauh lebih bermanfaat apabila ia dapat mendekatkan manusia kepada ALLAH yang sama sekali tidak terhijab oleh indahnya dunia dan menjauhkan dari kesombongan diri. Lihatlah kita sendiri teman…sebelum kita melihat orang lain,sudah benarkah kita,sebelum kita membenarkan orang lain???
Bagaimana mungkin kita menyuruh orang lain bertahajjud misalnya… sedangkan kita tiap malam begitu enggan beranjak dari tempat tidur&selimut hangat kita???
Apakah ini ilmu yang bermanfaat buat diri kita sendiri,sedang hanya akan bermanfaat untuk orang lain??
Bagaimana mungkin kita menyuruh orang lain berdzikir kepada ALLAH,sedangkan kita sering mengingat dunia&menyebut nama selainNya???
Bagaimana mungkin kita menyuruh orang lain mengingat tentang kematian,sedangkan hati kita sendiri sama sekali tidak bergetar tatkala mendengar namaNya???
Bagaimana mungkin kita menyuruh orang lain senantiasa untuk bershalawat,sedangkan hati kita masih sering tidak selaras untuk mengagungkan kemuliaan beliau,dan mengaku pencinta Nabi sedangkan sunnah-sunnah&akhlak beliau tidak bisa menjadi teladan bagi kita.
Bagimana mungkin kita menyuruh orang lain untuk melakukan puasa sunnah&membaca Al-Qur’an,sedangkan kita juga belum tentu ikhlas dalam menjalankan puasa,dan kita juga masih lebih suka membaca majalah,Koran,bahkan obrolan yang banyak menjadikan kita lalai dengan obrolan yang tidak bermanfaat,contohnya dalam Facebook.
Apakah ini semua yang dinamakan ilmu yang kita harapkan bermanfaat,sedangkan itu semua tidak bisa manfaat buat diri kita??? Kita seringkali lalai,yang hanya selalu melihat orang lain sehingga kita lebih dahulu dinilai oleh orang lain. Kita seringkali lalai yang hanya terlalu memikirkan dunia,sehingga kita lupa dengan apa yang pernah kita serukan kepada orang lain.
Inilah dunia yang bisa menjadi ladang kerusakan,terlebih untk jiwa kita jika salah dalam mengambil langkah . disinilah tempat kita menyombongkan diri,merasa ingin dipuji,padahal ilmu ini tidak akan ada apa-apanya,apalagi jika ilmu itu tidak pernah masuk dalam akal&merasuk kedalam qalbu. Kenapa kita merasa senang jika dipanggil Guru&jabatan kita diketahui banyak orang,padahal tingkah laku kita sering tidak mencerminkan seorang pendidik yang baik???
Kenapa kita merasa bangga dengan sebutan Ustadz/Ustadzah,jikalau akhlaq kita sering melanggar syari’at&jauh dari kata teladan???
Kenapa kita merasa menjadi ahli kitab/seorang Hafidz yang mahir,padahal ilmu kita hanya berisi kesombongan&terkadang kita juga tidak memahami makna&maksud dari ayat yang kita hafalkan???
Kenapa kita merasa amalan kita sempurna,jika orang lain telah mengetahui bahwa kita adalah ahli puasa&ahli b’ibadah,padahal semua amalan itu hanyalah jalan untuk Riya’&Ujub.
Ingatlah….kemuliaan seseorang bukan hanya tingginya ilmu,tetapi karena ketakwaannya. Dalam islam,orang yang tahu tetapi tidak melaksanakan ilmunya,maka dipandang sebagai tidak tahu. Jadi antara amalperbuatan&lisannya haruslah seimbang. Seseorang yang menyerukan amalan-amalan,baik lewat catatan tausiyahnya dalam FB misalnya,juga haruslah memahami bahwa setiap kata adalah nasihat,dan setiap kalimat adalah amanat. Jika kita memilih jalan ini maka kita juga harus tahu konsekuensinya. Bahwa amal perbuatan&lisannya haruslah seimbang,artinya ilmu yang kita sampaikan juga haruslah bermanfaat untuk diri kita dahulu,barulah bermanfaat untuk orang lain,seperti Dawuhnya Romo Kyai diatas… Rasul bersabda dari Abi Mas’ud ra bahwa: “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan,maka akan memperoleh pahala seperti yang melaksanakannya.” Tetapi… dalam surat As-Saff ayat 3 berbunyi: “Alangkah besarnya dosa dihadapan ALLAH bila kamu mengucapkan(mengajak) sesuatu yang tidak kamu lakukan.” Jadi…janganlah menilai seseorang dari pembicaraannya saja,tetapi lihatlah realita hidupnya. Kita juga haruslah menyadari bahwa hidup didunia hanyalah sementara,karena kesenangan dunia adalah sementara,seharusnya kita menyadari bahwa dunia adalah tempat beramal,sedangkan akhirat adalah tempat memanen.
Semoga bermanfaat untuk menghantarkan kita menjadi manusia baru sebelum berfikir,berucap&melangkah.
Mohon maaf jika dalam kata&kalimat ada yang tidak berkenan,karena ini hanyalah bahan introspeksi diri&sebuah iklan.
5 Peluang Untuk Mencapai Kesuksessan
Peluang berbeda dengan nasib. Dua orang yang memiliki peluang sama belum tentu nasibnya sama. Banyak faktor yang menjadi penentu keberhasilan, ada faktor dibawah kendali dan ada faktor diluar kendali. Teori sederhana mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat kecerdasan intelektual seseorang, semakin tinggi pula peluang mencapai keberhasilan. Akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang yang memiliki IQ sangat tinggi justru bekerja dibawah perusahaan yang dipimpin oleh orang yang IQ-nya sedang-sedang saja. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kecerdasan emosional lebih signifikan menentukan keberhasilan dibandingkan IQ. mengapa? karena hukum logika tidak selamanya relevan dengan problem solving. Carut marut masalah sering tidak mengikuti prinsip - prinsip logika, oleh karena itu dibutuhkan pendekatan lain. Nabi Muhammad memberikan kita kiat meraih kesuksesan di dalam hidup kita. Salah satu hadis menyebutkan, Ightanim khomsan qobla khomsin, Rebutlah lima peluang sebelum datangnya lima hambatan.
- Hayataka qobla mautika, mumpung masih hidup sebelum mati, pergunakanlah umur itu seproduktif mungkin, karena hanya ketika hidup orang bisa berinvestasi untuk kebahagiaan akhirat nanti. Jika orang sudah mati maka produktifitasnya habis, selain tiga perkara. amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh. Maka mumpung masih hidup, perbanyak amal jariah, yakni amal yang kemanfaatannya berumur panjang dan dimanfaatkan oleh orang banyak, misalnya bikin jembatan, jalan, gedung sekolah, masjid, rumah sakit. Ajarkan ilmu pengetahuan yang anda miliki kepada orang lain, maka selagi ilmu anda diamalkan, anda masih tetap dapat pahalanya, dan didiklah anak anda hingga menjadi anak saleh, karena hanya doa anak saleh yang dijamin diterima Allah.
- Syababaka qobla haramika. Mumpung masih muda , sebelum tua. gunakan masa muda untuk belajar dan bekerja keras, karena belajar diwaktu muda seperti orang melukis diatas batu, tidak mudah hilang, sedangkan belajar diwaktu tua apalagi setelah pikun, seperti melukis diatas air, langsung lupa. Juga bekerja keraslah di usia muda untuk menabung, agar di usia tua nanti tinggal menikmati buah dari tanaman ketika masih muda. Orang, ketika sudah pikun, ia kembali lemah sepeti anak-anak, kembali bodoh seperti ketika belum sekolah
- Shihhataka qobla saqamika. Mumpung masih sehat, sebelum sakit. Sehat bukan saja kenikmatan, tetapi juga peluang. Dalam kondisi sehat orang bisa mengerjakan banyak hal, bisa mengatasi banyak hambatan, bisa mengumpulkan cadangan untuk jika sewaktu-waktu sakit. Sehat itu satu kenikmatan yang jarang disadari, baru setelah sakit orang menyadari betapa bermaknanya sehat.
- Ghinaka qobla faqrika,. Mumpung masih punya, masih kaya, belum bangkrut, gunakan kekayaan anda untuk hal-hal yang positif bagi orang banyak, keluarga, tetangga atau masyarakat luas, karena jika anda keburu bangkrut anda tidak lagi mampu memberi, dan baru menyadari betapa bermaknanya kontribusi orang kaya. Ciri orang kaya adalah sudah tidak punya kebutuhan dan memiliki kemampuan untuk memberi. Jika orang sudah pegang banyak tetapi kebutuhannya malah lebih banyak sehingga ia tidak mampu memberi malah mengambil jatah orang miskin, maka orang seperti itu bukanlah orang kaya. Oleh karena itu ada orang kaya harta miskin hati, dan ada orang yang miskin harta tapi kaya hati. Orang yang kaya hati, punya lima ribu upiah masih bisa memberi empat ribu rupiah. Ayo mumpung masih kaya.
- Sa`atika qobla dloiqika. Mumpung masih punya kelapangan , belum terhimpit kesempitan , mumpung sempat belum sempit, gunakan kesempatan itu untuk melakukan hal yang terbaik. Kesempatan sering tidak datang dua kali, jangan sia-siakan kesempatan. Jangan salah pilih dan salah mengambil keputusan ketika kesempatan terbuka. Banyak orang menggunakan kesempatan dalam kesempitan yang berujung pada penyesalan yang panjang, hanya nikmat sesaat berujung pada derita selamanya.
Langganan:
Postingan (Atom)



